Keunikan Seni Tari Sajojo : Sejarah dan Asalnya

Meta Deskripsi:

Sejarah seni tari Sajojo diperkirakan sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Dengan gerakan yang unik dan harmonis, siapa saja bisa melakukan tarian ini.

Kekayaan budaya dan adat istiadat di Indonesia sangat beragam sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Salah satunya adalah seni tari Sajojo yang menampilkan gerakan unik dan dinamis sesuai irama lagu yang mengiringi tarian.

Dengan melihat suguhan tarian tersebut yang diiringi lagu berjudul Sajojo, tentu Anda bisa lebih mudah mengenalinya meskipun belum tahu daerah asalnya. Nah, kali ini Anda akan diajak untuk mengenal seni tari tersebut secara lengkap mulai dari sejarah hingga daerah asalnya. Silakan simak baik-baik.

Keunikan Tari Sajojo

Tarian khas dari setiap daerah memiliki keunikan dan ciri tersendiri yang membuatnya berbeda dengan tarian daerah lainnya. Tidak terkecuali dengan tarian Sajojo yang memiliki beberapa keunikan seperti berikut ini:

·       Merupakan Tarian Selamat Datang

Salah satu keunikan dari tarian Sajojo adalah sebagai bentuk tarian selamat datang. Hal ini tidak terlepas dari kepopuleran tarian yang menjadikannya sering digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.

·       Menjadi Simbol Pergaulan

Tarian Sajojo dibawakan dengan penuh keceriaan dan kegembiraan, jenis tarian adat ini rupanya juga menjadi simbol pergaulan. Di dalam tarian juga terdapat semangat gotong royong yang membuat tarian ini semakin bermakna.

·       Warna Putih untuk Memperjelas Motif Lukisan di Tubuh

Selain menggunakan kostum yang unik khas budaya setempat, para penari juga menghiasi tubuhnya dengan motif tertentu yang berwarna dasar putih. Warna putih dipilih karena bisa membuat motif lukisan terlihat jelas. Motif lukisan biasanya berupa flora dan fauna khas daerah setempat.

·       Menggunakan Properti Senjata dan Alat Musik Tifa

Dalam tarian daerah ini ada satu properti yang wajib ada yaitu senjata yang fungsinya mempertegas gerakan setiap penari. Adapun jenis senjata yang digunakan bisa berupa busur panah atau tombak. Sedangkan alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian adalah tifa.

·       Siapa saja Bisa Menarikan Tarian Sajojo

Keunikan lainnya yang bisa dilihat dari jenis tarian tradisional ini adalah penarinya bisa siapa saja tanpa mengenal batas usia. Dengan adanya semangat kebersamaan di dalamnya, gerakan yang dilakukan akan terlihat harmonis dan kompak.

·       Bisa Dipentaskan dalam Skala Besar

Dalam menarikan tarian Sajojo tidak ada aturan yang mengikat, khususnya terkait jumlah penari. Yang menarik, jenis tarian ini bisa dilakukan secara bersama-sama dalam skala besar dengan penari hingga puluhan orang sehingga memberikan kemeriahan tersendiri.

Sejarah Seni Tari Sajojo Papua

Asal usul atau sejarah dari tarian Sajojo belum ada yang bisa memastikan. Meski begitu, Banyak sumber informasi yang menyebutkan bahwa jenis tarian tersebut sudah ada sejak tahun 90-an. Selanjutnya tarian Sajojo berkembang dan semakin populer, bahkan hingga ke mancanegara.

Nama tariannya sendiri diambil dari lagu yang pengiringnya yang berjudul Sajojo. Meskipun lagu tersebut isinya tentang gadis kembang desa yang diidolakan banyak pemuda, namun nadanya yang ceria sangat cocok untuk mengiringi gerakan tarian yang dinamis.

Daerah Asal Seni Tari Sajojo

Jika Anda menyimak dari awal, pasti sudah mengetahui daerah asal tarian Sajojo. Sebagai informasi, tarian Sajojo berasal dari daerah Papua dan menjadi salah satu tarian populer yang banyak ditampilkan dalam berbagai acara adat dan budaya. Tarian juga sering dilakukan sebagai hiburan bagi masyarakat.

Sedangkan lagu Sajojo yang digunakan untuk mengiringi tarian merupakan ciptaan David Rumagesan. Lirik lagu tersebut menceritakan tentang bunga desa yang dicintai keluarganya dan didambakan para pemuda desa.

Seni tari Sajojo menampilkan gerakan yang khas dan energik dengan kekompakan para penari dalam setiap gerakannya. Jenis tari pergaulan ini bukan hanya menjadi simbol semangat gotong royong saja tetapi juga menjadi salah satu kekayaan budaya khas Papua yang harus dilestarikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *